Untuk Mendapatkan Ampunan, Apakah Harus Sholat Tarawih Selama Sebulan Penuh ? - El Majalis

Breaking

April 26, 2020

Untuk Mendapatkan Ampunan, Apakah Harus Sholat Tarawih Selama Sebulan Penuh ?


Soal: Apakah keutamaan yang disebutkan dalam hadits berikut berupa peraihan ampunan berlaku bagi seseorang yang mendirikan sholat malam selama sebulan penuh atau juga berlaku bagi yang sholat beberapa malam saja?
Jawab: Dalam sebuah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui jalur Abu Hurairah rd, dimana Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
)مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  (
Dari Abu Hurairah rd bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa mendirikan sholat malam di bulan Romadhan dengan keimanan dan mengaharap pahala, niscaya diampuni baginya dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penyebutan kata Romadhan dalam hadits di atas secara mutlaq menunjukkan kepada seluruh malam Romadhan. Oleh karena itu yang tampak dari hadits tersebut bahwa pahala yang dijanjikan dalam hadits disyaratkan mendirikan sholat malam pada setiap malam Romadhan.
Imam Ash Shon’ani rh berkata:
" يحتمل أنه يريد قيام جميع لياليه ، وأن من قام بعضها لا يحصل له ما ذكره من المغفرة ، وهو الظاهر " انتهى من "سبل السلام" (4 / 182).
“(hadits tersebut) kemungkinan maksudnya adalah mendirikan seluruh malam Romadhan, dan orang yang hanya mendirikan sholat malam pada sebagian malam romadhan tidak mendapatkan pahala yang dimaksud berupa ampunan, dan inilah yang tampak jelas dari hadits.” [Subulus Salam (4/182]
Syaikh Ibnu Utsaimin rh berkata:
" قال: ( مَنْ قَامَ رَمَضَانَ ) يعني: شهر رمضان، وهو يشمل كل الشهر، من أوله إلى آخره " انتهى من "شرح بلوغ المرام" (3 / 290).
“Hadits (Barangsiapa yang mendirikan (sholat malam) di Romadhan) yakni bulan Romadhan, dan itu mencakup satu bulan penuh dari awal sampai akhirnya. “ [syarah Bulughul Maram 3/290]
Adapun bagi yang tidak melaksanakan sholat malam pada sebagian malam ada dua kemungkinan;
Pertama: Jika tidak melaksanakannya karena ada sebab yang syar’i seperti sakit, safat atau sebab-sebab syar’i lainnya, maka diharapkan mereka tetap mendapatkan pahala yang disebutkan dalam hadits tersebut.
Hal ini berdasarkan keumuman hadits:
)إِذَا مَرِضَ العَبْدُ، أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا (
“Apabila seorang hamba sakit atau sedang safar, niscaya ditulis baginya pahala ibadah yang dia kerjakan ketika muqim (tidak safar) dan sehat.” (HR. Bukhari)
Artinya; Jika sakit atau safar tersebut menghalanginya atau membuatnya kurang maksimal untuk melakukan ibadah sebagaimana yang biasanya dilakukan sebelum dia sakit atau safar, maka pahala ibadah tersebut tetap ditulis sempurna baginya. Dan ini salah satu bentuk rahmat Allah kepada hamba-Nya
Kedua: Dia meninggalkan sholat malam pada sebagian malam karena malas, maka yang tampak bahwa dia tidak mendapatkan keutamaan yang tersebut dalam hadist.
Wallahu A’alam
Oleh: Ahmad Jamaludin Al Atjehi, Lc



Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman