Makna Hadits “Puasa Untuk-Ku Dan Aku Yang Membalasnya." Menurut Hafizh Ibnu Hajar rh - El Majalis

Breaking

April 18, 2020

Makna Hadits “Puasa Untuk-Ku Dan Aku Yang Membalasnya." Menurut Hafizh Ibnu Hajar rh



Bismillah alhamdulillah washolatu wassalamu ala Rasulillah. Amma ba’du.
Abu Hurairah rd meriwayatkan bahwa Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda :
«كلُّ عملِ ابنِ آدَمَ لهُ؛ الحسنةُ بعشرِ أمثالِها إلى سبعِ مئةِ ضعفٍ. قالَ اللهُ: إلاَّ الصِّيامَ، فإنَّهُ لي وأنا أجْزي بِهِ.إنَّهُ تَرَكَ شهوتَهُ وطَعامَهُ وشرابَهُ مِن أجلي.
“Setiap amal anak Adam untuknya, kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Allah azza wajalla berfirman; kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang memberikan pahalanya. Dia meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya karena-Ku..” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa semua amal sholih yang dikerjakan seorang hamba akan dibalas oleh Allah swt termasuk puasa di dalamnya, lalu apa maksudnya pengkhususan puasa unutuk Allah dan Dia yang akan memberikan pahalanya dalam hadits di atas..?

Al Hafizh Ibnu Hajar rh mengatakan: Dan telah terjadi perbedaan pendapat ulama dalam menafsirkan makna dari sabda Nabi shallalahu alaihi wasallam “kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang memberikan pahalanya. Padahal semua amal sholih itu Dialah yang akan membalasnya.
Beliau menyebutkan ada 10 pendapat para ulama tentang makna hadits tersebut. Setelah beliau rh menyebutkan semua pendapat itu, beliau mengatakan bahwa pendapat yang paling dekat dengan kebenaran adalah pendapat yang pertama dan kedua.
Berikut ini penulis akan menyebutkan secara ringkas kedua pendapat yaitu;

1. Ibadah puasa tidak terjadi riya di dalamnya tidak seperti yang terjadi pada (ibadah lain) selain puasa.  

Abu Ubaid rh berkata: Sungguh kita telah mengetahui bahwa semua amal kebaikan itu untuk Allah dan Dialah yang membalasnya. Maka kami memandang - Allah lebih tahu – bahwa pengkhususan ibadah puasa untuk Allah karena orang yang puasa itu tidak tampak bagi manusia karena ia niat di dalam hati.

Imam Al Qurthubu rh berkata: Ketika amal-amal kebaikan itu memungkinkan dimasuki riya sedang puasa tidak diketahui hakikat orang sedang puasa kecuali Allah, maka Allah sandarkan puasa kepada diri-Nya, oleh karena itu disebutkan dalam hadits “dia meninggalkan syahwatnya karena-Ku.”

Ibnul jauzi rh berkata: Seleruh ibadah tampak jika dikerjakan dan amal yang tampak rentan dimasuki riya berbeda dengan puasa.

2. Maksudnya bahwa hanya Allah yang tahu kadar pahala dan kelipatannya. Adapun ibadah-ibadah selainnya telah diketahui oleh sebagian manusia tentang kadar dan kelipatan pahalanya.

Imam al Qurthubu rh berkata: Artinya bahwa kadar pahala ibadah-ibadah (selain puasa) telah disingkap kepada manusia dan pahalanya dilipatgandakan mulai dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang Allah kehendaki, kecuali puasa, Allah akan membarikan pahalanya tanpa kadar tertentu.

Dalam sebuah ayat disebutkan “sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diberikan pahala tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10).

Ibnu Hajar rh berkata: orang-orang yang sabar adalah orang-orang yang bepuasa menurut kebanyakan pendapat ulama. Hal ini juga dikatakan oleh ibnu Uyainah rh.

Demikian ringkasan pendapat yang bisa penulis rangkung dari penjelasan imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari. Bagi yang ingin membaca lebih jauh silahkan bisa merujuh ke kitab tersebut. Semoga bermanfaat bagi pemabaca sekalia.

Wallahu A’lam

Ahmad jamaludin Al Atjehi, Lc

Artikel: elmajalis.net


Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman