Hukum Belajar Fiqih Islami - El Majalis

Breaking

Oktober 16, 2018

Hukum Belajar Fiqih Islami


Secara umum, belajar fiqih islami memiliki dua hukum yaitu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.
Fardhu ain (kewajiban atas setiap individu) yaitu mempelajari hal-hal yg dibutuhkan oleh setiap muslim dlm beribadah kpd Allah seperti tata cara bersuci (wudhu, mandi junub, tayammum), tata cara sholat dan hal2 yg berhubungan denganya serta puasa dan yg berkaitan dengannya.
Di sana ada juga masalah fiqih yang hanya wajib dipelajari oleh orang-orang tertentu atau memiliki kriteria tertentu saja. Sebagai contoh:
Pedagang/pegusaha wajib baginya mempelajari fiqih sptr jual beli dan zakat perniagaan sedangkan selain mereka tidak wajib.
Orang kaya wajib baginya mempelajari fiqih seputar zakat harta sedangkan orang miskin tidak wajib.
Org yg mau melaksakan ibadah haji atau umrah, wajib baginya mempelajari manasik haji sedangkan yang tidak maka tidak wajib.
Petani harus belajar seputar fiqih zakat biji-bijian dan buah-buahan sementara yang selain mereka tidak wajib.

Tapi perlu diingat meskipun secara hukum tidak wajib mempelajari hal-hal tsb di atas selain yang disebutkan bukan berarti tidak perlu dipelajari apalagi jika dia sebagai seorang guru atau pemberi fatwa.

Adapun Fardhu kifayah (permasalahan fiqih yang hanya diwajibkan secara kolektif atau dengan kata lain jika sudah ada orang yang mengetahui atau melaksanakan hal tersebut maka sudah gugur kewajibannya dari yang lain. Seperti hukum fiqih yang berhubungan dengan pengurusan jenazah mulai dari memandikan, mengkafani, mensholatkan dan menguburkan. Mempelajari ilmu waris (tata cara pembagian harta warisan) dll.

Diringkas dari beberapa sumber | Ahmad Jamaludin Al Atjehi, Lc

Artikel: www.elmajalis.com

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman