11 Permasalahan Puasa Yang Sering Ditanyakan Seputar Suami Istri - El Majalis

Breaking

April 16, 2020

11 Permasalahan Puasa Yang Sering Ditanyakan Seputar Suami Istri

Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang sering terjadi ketika seorang muslim melaksanakan ibadah puasa yaitu permasalahan terkait hubungan suami istri di siang hari pada bulan romadhan.
1. Seorang isteri yang dipaksa suaminya untuk bersetubuh tidak ada baginya kafarat, karena ia terpaksa atau bukan berdasarkan keinginannya. 
2. Barang siapa yang mengetahui bahwa bersetubuh di siang hari bulan Romadhon adalah haram, akan tetapi dia tidak tahu tentang wajibnya kafarat bagi pelakunya, maka kafarat tetap berlaku baginya.
3. Barang siapa yang ingin bersetubuh dengan istrinya, tapi di awali dengan berbuka dengan makan atau minum, maka hal ini lebih buruk lagi karena dia telah merendahkan kehormatan bulan Romadhon dua kali.
4.  Apabila pasutri (pasangan suami istri) sedang besetubuh, tiba-tiba fajarpun menyingsing, maka wajib bagi mereka segera menyelesaikannya. Adapun puasanya tetap dihukumi sah, sekalipun keluar mani setelah itu. 
5. Adapun jika diteruskan (bersetubuh) sedang fajar sudah muncul, maka batallah puasa keduanya dan wajib bagi keduanya bertaubat serta membayar kafarat seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
6. Jika seseorang berpuasa qadho’ (mengganti puasa Romadhon) kemudian terjadi persetubuhan pada hari itu, maka tidak ada baginya kafarat, karena kafarat itu berlaku hanya di bulan Romadhon.
7. Apabila persetubuhan berulang kali, hal ini tidak keluar dari tiga keadaan: Pertama: apabila hal ini terulang pada hari yang sama sedang dia belum membayar kafarat jimak yang pertama, maka cukup baginya membayar kafarat satu kali saja. 
   Kedua: adapun jika dia telah membayar kafarat jimak yang pertama kemudian melakukan jimak lagi, maka diharuskan baginya membayar kafarat yang kedua, sekalipun jimak yang kedua terjadi pada hari yang sama. 
   Ketiga: apabila terjadi persetubuhan di hari yang berbeda, maka wajib baginya membayar kafarat untuk setiap harinya, karena setiap hari adalah ibadah yang terpisah.
8. Mencium atau menyentuh tanpa keluar air mani tidak membatalkan puasa, tetapi kalau dia khawatir terhadap dirinya akan keluar mani atau mendorong dia untuk berjima’ maka dilarang baginya melakukan hal tersebut.

9. Adapun keluar mani disebabakan ihtilam (mimpi basah) tidak membatalkan puasa, karena hal tersebut bukan atas pilihan dan keinginan darinya.

10. Barangsiapa mengeluarkan mani di siang hari dengan sesuatu yang mungkin dihindari seperti menyentuh, mencium, melihat berulang kali, maka wajib baginya bertaubat serta menyempurnakan puasanya kemudian diharuskan baginya mengqodho’ puasa hari tersebut. Sementara jika dia sedang melakukan onani kemudian berhenti sebelum keluar mani, maka hendaklah baginya bertaubat tanpa harus mengganti puasanya, karena tidak sampai keluar mani.

11. Jika seseorang keluar madzi (cairan lengket yang keluar saat bercumbu, berciuman, berfikir atau menghayal tentang jima’), maka menurut pendapat yang paling benar adalah tidak membatalkan puasa.


    Wallahu A'alam

Sumber: Kutaib: (تعلم فقه الصيام ( karya; Syaikh Maajid bin Su’ud dan artikel (مسالة في الصيام 70) karya; Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid ~

Penerjemah: Ahmad Jamaludin, Lc

==================
Artikel: www.elmajalis.net

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman